Ilmu Sosial Dasar
“Kejadian Luar Biasa Difteri”

Disusun Oleh:
Veri Irvan (56417079)
1IA13
Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri
Universitas Gunadarma
Universitas Gunadarma
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang mana telah memberi kita berkat sehingga saya dapat menyusun penulisan dengan judul “Kejadian Luar Biasa Difteri”. Tidak lupa juga kepada mereka yang telah membantu sampai penulisan ini dapat selesai.
Kami berharap penulisan ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi saya khususnya, dan segenap pembaca umum. Saya menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak sangat saya harapkan untuk menuju kesempurnaan penulisan ini.
Terima kasih bagi pembaca yang telah membaca penulisan ini dan mohon maaf jika dalam penulisan ini ada kata-kata yang kurang berkenan. Dengan dibuatnya penulisan ini, saya berharap kritik dan saran dari pembaca.
Jakarta, 25 Februari 2018
Hormat Saya,
Penyusun
Hormat Saya,
Penyusun
DAFTAR ISI
HAL
COVER
KATA PENGANTAN
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Tujuan
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Difteri
2.2 Gejala dan Penanganan
2.3 Difteri di Indonesia
2.4 Analisis
BAB III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
REFRENSI
REFRENSI
Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia. Sementara pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.
1.2 Tujuan
Penulisan ini dilakukan bertujuan antisipasi penyakit difteri terhadap masyarakat Indonesia serta mengetahui dan menyembuhkan penyakit difteri supaya penerus bangsa tidak mudah rentang terhadap penyakit ini.
Bab II
Pembahasan
2.1 Pengertian Difteri
Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa. Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri.
2.2 Gejala dan Penanganan
Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Sejumlah penularan yang perlu diwaspadai, seperti:
1. Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
2. Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
3. Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.
Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala penyakit difteri meliputi:
1. Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
2. Demam dan menggigil.
3. Sakit tenggorokan dan suara serak.
4. Sulit bernapas atau napas yang cepat.
5. Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
6. Lemas dan lelah.
7. Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.
Imunisasi difteri, pertusis, dan tetanus (DPT) sangat penting dilakukan secara lengkap. Setiap orang harus mengikuti imunisasi DPT sebanyak 8 kali hingga berusia 19 tahun. Namun seseorang bisa terjangkit difteri meski sudah diimunisasi.
2.3 Difteri di Indonesia
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut kejadian luar biasa (KLB) difteri di Indonesia paling tinggi di dunia. KLB difteri terjadi di 28 provinsi serta 142 kabupaten/kota. Ketua PP Ikatan Dokter Anak Indonesia Aman Bhakti Pulungan mengatakan KLB difteri saat ini adalah KLB difteri yang pernah kejadian paling tinggi di dunia. Jadi belum pernah ada di dunia jumlahnya paling banyak dan cakupannya banyak 28 provinsi.
Dibandingkan KLB difteri yang pernah terjadi di Rusia, Afrika Selatan, dan Brasil dengan Indonesia. Kasus difteri di Indonesia adalah yang paling tinggi. Tidak seperti KLB di Rusia atau di Brasil yang hanya beberapa provinsi. Difteri di Afrika Selatan juga hanya beberapa provinsi. Sedangkan Indonesia mendapat rekor KLB yang ada di dunia.
Difteri sebenarnya merupakan penyakit lama yang sudah ada vaksin penangkalnya yang disebut vaksin DPT. Idealnya, vaksin ini diberikan minimal tiga kali seumur hidup sejak berusia dua tahun. Vaksin ini akan efektif jika diberikan setiap 10 tahun.
Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap difteri, karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya. Akhir-akhir ini, di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap imunisasi.
Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi menjelaskan sejak tahun 1990-an, kasus difteri di Indonesia ini sudah hampir tidak ada, baru muncul lagi pada tahun 2009. Jadi sebenarnya bukan penyakit baru, penyakit lama yang harusnya sudah hilang dengan vaksinasi, tapi karena ada kelompok-kelompok anti vaksinasi yang banyak ini, tidak semua anak lagi yang divaksin jadinya, menurut Jane Soepardi.
2.4 Analisis
Imunisasi difteri, pertusis, dan tetanus (DPT) sangat penting dilakukan secara lengkap. Setiap orang harus mengikuti imunisasi DPT sebanyak 8 kali hingga berusia 19 tahun. Namun seseorang bisa terjangkit difteri meski sudah diimunisasi.
Sebagai pencegahan, IDI dan IDAI mengimbau masyarakat untuk mengikuti imunisasi melalui ORI (Outbreak Response Immunization). Menurut Ketua PP Ikatan Dokter Anak Indonesia Aman Bhakti Pulungan , ORI menjadi satu-satunya jalan untuk memangkas angka korban jiwa terus bertambah. Diperlukan juga ketegasan pemerintah terhadap kelompok anti vaksin.
Bab III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Difteri sebagai penyakit mematikan telah menyebar secara luas di Indonesia, yaitu sebanyak 28 provinsi serta 142 kabupaten/kota.KLB difteri yang terjadi saat ini adalah kejadian paling tinggi di dunia. Belum pernah ada di dunia jumlahnya paling banyak dan cakupannya banyak 28 provinsi. Munculnya di beberapa daerah di Indonesia yaitu penolakan terhadap imunisasi membuat kekosongan kekebalan yang berakibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap difteri
3.2 Saran
Diperlukan sosialisasi secara konsisten untuk mengkampanyekan bahaya atau dampak negatif dari difteri dari pemerintah atau kelompok terkait guna membuat generasi muda tidak mudah terkena difteri . Harus adanya kesadaran generasi tua dalam membimbing generasi muda agar mau di imunisasi sejak dini. Idealnya, vaksin ini diberikan minimal tiga kali seumur hidup sejak berusia dua tahun. Vaksin ini akan efektif jika diberikan setiap 10 tahun.
Refrensihttps://news.detik.com/berita/3775351/idai-klb-difteri-di-indonesia-paling-tinggi-di-dunia
https://www.jawapos.com/read/2018/03/02/192710/3-faktor-utama-penyebab-pasien-difteri-meninggal-dunia
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-42215042
http://www.alodokter.com/difteri
penyakit difteri sangat berbahaya sekali , tp sekarang sudah ada vaksinya jadi lebih tenang
BalasHapuscara klaim asuransi prudential
Blog yang bagus untuk disimak, saya ingin menginformasikan bahwa sekarang sudah ada yang terbaru dan mudah digunakan, nonton film drama korea dia aplikasi MYDRAKOR, tinggal Download di GooglePlay secara gratis, banyak drama terbaru.
BalasHapushttps://play.google.com/store/apps/details?id=id.mydrakor.main
https://www.inflixer.com/