Makalah
Ilmu Sosial Dasar
“Informasi Hoaks Terhadap Generasi Z”

Disusun Oleh:
Veri Irvan (56417079)
1IA13
Teknik Informatika
Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang mana telah memberi kita berkat sehingga saya dapat menyusun makalah dengan judul “Informasi Hoaks Terhadap Generasi Z”. Tidak lupa juga kepada mereka yang telah membantu sampai makalah ini dapat selesai.
Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi saya khususnya, dan segenap pembaca umum. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak sangat saya harapkan untuk menuju kesempurnaan makalah ini.
Terima kasih bagi pembaca yang telah membaca makalah ini dan mohon maaf jika dalam penulisan ini ada kata-kata yang kurang berkenan. Dengan dibuatnya makalah ini, saya berharap kritik dan saran dari pembaca.
Depok, 5 November 2017
Hormat Saya,
Penyusun
Hormat Saya,
Penyusun
DAFTAR ISI
HAL
COVER
KATA PENGANTAN
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Tujuan
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Hoaks
2.2 Generasi Z
2.3 Internet Sebagai Sumber Informasi
2.4 Mengidentifikasi Berita Hoaks dan Asli
BAB III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
REFRENSI
REFRENSI
Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Pengguna internet di kalangan generasi muda atau lebih dikenal dengan generasi Z dinilai rentan terhadap informasi yang bersifat palsu (Hoaks). Pasalnya mereka dinilai minim pengalaman dalam mengkonsumsi informasi. Untuk itu diperlukan kerjasama pemerintah dan masyarakat.
1.2 Tujuan
Penulisan ini dilakukan bertujuan antisipasi berita hoaks terhadap kalangan generasi muda sebagai penerus bangsa untuk tidak mudah rentang terhadap berita tidak benar.
Bab II
Pembahasan
2.1 Pengertian Hoaks
Para penulis yang menggunakan bahasa Indonesia kini bisa menggunakan ejaan "hoaks" dengan "ks" di belakang sebagai bentuk kata serapan dari bahasa asing "hoax" yang belakangan kerap ramai digunakan, terutama di ranah media sosial.
Adapun kata hoaks dalam KBBI dikategorikan sebagai ajektiva dan nomina. Sebagai ajektiva, kata hoaks berarti tidak benar; bohong. Dalam penulisannya sebagai frasa, hoaks ini menggunakan kata yang diterangkan terlebih dahulu, misalnya menjadi "berita hoaks". Namun, hoaks juga bisa berdiri sendiri sebagai nomina dengan arti "berita bohong".
2.2 Generasi Z
Pembagian generasi berdasarkan rentang tahun sudah dilakukan para sosiolog, salah satunya adalah Generasi Milenial. Sebagai gambaran singkat, Generasi Milenial yang juga punya nama lain Generasi Y adalah kelompok manusia yang lahir di atas sekitar tahun 1980 hingga 1997. Mereka disebut milenial karena satu-satunya generasi yang pernah melewati milenium kedua sejak teori generasi ini dikemukakan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923.
Dalam esai berjudul "The Problem of Generation," sosiolog Mannheim mengenalkan teorinya tentang generasi. Menurutnya manusia-manusia di dunia ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena melewati masa sosio-sejarah yang sama. Maksudnya, manusia-manusia zaman Perang Dunia II dan manusia pasca-PD II pasti memiliki karakter yang berbeda, meski saling memengaruhi.
Berdasarkan teori itu, para sosiolog yang kebanyakan dari Amerika Serikat membagi manusia menjadi sejumlah generasi: Generasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-PD II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y alias Milenial, lalu Generasi Z.
Pembagian ini biasanya berdasarkan rentang tahun kelahiran. Rentang tahun didefinisikan berbeda-beda menurut sejumlah pakar meskipun tidak terlalu jauh.
2.3 Internet Sebagai Sumber Informasi
Pengguna internet di kalangan generasi muda atau lebih dikenal dengan generasi Z dinilai rentan terhadap informasi yang bersifat palsu (Hoax). Pasalnya mereka dinilai minim pengalaman dalam mengkonsumsi informasi.
Untuk itu, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Barat secara konsisten akan terus mengkampanyekan bahaya atau dampak negatif dari berita hoax.
"Generasi Z ini memang cepat mengetahui teknologi tapi akan rentan terhadap informasi yang masih diragukan kebenarannya," ungkap Kepala Diskominfo Jabar, Hening Widyatmoko kepada wartawan di kantor Diskominfo Jabar, Senin (23/10/2017).
Widi sapaan Kadiskominfo Jabar menghimbau kepada masyarakat agar mampu memilih dan memilah informasi sebelum disebarluaskan ke publik. Hal itu dilakukan, guna menghindari pemanfaatan kepentingan pribadi yang diunggah melalui media sosial oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
"Jika ingin menyebar informasi itu. Tolong dilampirkan juga domain sistemnya atau alamat IP-nya sehingga bisa merujuk langsung kepada sumber yang memberitakan," ungkap Kadiskominfo.
2.4 Mengidentifikasi Berita Hoaks dan Asli
Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menguraikan lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoaks dan mana berita asli. Berikut langkah yang didapat dari web kominfo.
Hati-hati dengan judul provokatif. Berita hoaks seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoaks.
Cermati alamat situs. Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi -misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.
Periksa fakta. Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.
Cek keaslian foto. Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.
Ikut serta grup diskusi anti-hoax. Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoaks, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.
Bagi pengguna internet Anda dapat mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan melayangkan e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id.
Bab III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Pentingnya peran generasi muda sebagai penerus bangsa harus didampingi dengan pola pikir mereka. Generasi muda saat ini harus selektif dan kritis dalam memilih informasi sehingga tidak mudah rentang terkena berita tidak benar. Peran pemerintah dan masyarakat dalam memberantas hoaks harus dilakukan sejak dini agar tidak mudah terprovokasi.
3.2 Saran
Diperlukan sosialisasi secara konsisten untuk mengkampanyekan bahaya atau dampak negatif dari berita hoaks dari pemerintah atau kelompok terkait guna membuat generasi muda tidak mudah mempercayai berita tidak benar. Harus adanya kesadaran generasi tua dalam membimbing dan tidak membuat berita hoaks.
Refrensi
http://nasional.kompas.com/read/2017/02/28/13203281/kata.hoaks.dan.meme.sudah.tercatat.di.kamus.bahasa.indonesia
https://tirto.id/selamat-tinggal-generasi-milenial-selamat-datang-generasi-z-cnzX
https://www.wartaekonomi.co.id/read158602/generasi-z-rentan-konsumsi-berita-hoax.html
https://kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya/0/sorotan_media
https://tirto.id/selamat-tinggal-generasi-milenial-selamat-datang-generasi-z-cnzX
https://www.wartaekonomi.co.id/read158602/generasi-z-rentan-konsumsi-berita-hoax.html
https://kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya/0/sorotan_media
Komentar
Posting Komentar